Mind Manifestation Journals

Social Journalist sees Industries and Global Impacts

Monologue of Life

leave a comment »

 

Life is not easy…….

It takes a hard time to move on……..

You could lose and you may win……

But it’s just a simple thing across the journey…….

Earlier, I thought life is far from sadness…….

I thought life is less from sorrow…….

But I’m wrong…….

I’m totally wrong…….

When I open my eyes wide….

I saw every people just look to their biggest dream………

They only crawl to the edge of mountain………

they hardly try to reach the sky……..

But they forgot to release a rope……..

For everyone who givin’ up their shoulders………

And just walk away without sayin’ goodbye……….

 Those are people…..

That you and me live with…..

(henry, 12 februari 2009)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 4:29 PM

Posted in Poetries

White Imagination

leave a comment »

 

Teman-teman kesengsaraan yang terberkati…..

Di satu waktu Herodotus memperkenalkan sebuah penceritaan ulang yang bernama sejarah…

Namun pada saat ini…….

Izinkan seorang pecundang……

dengan konstelasi-konstelasinya…….

Diberi ruang dalam mengekspresikan kecanduannya…….

Kecanduannya akan cinta kasih…….

Kecanduannya akan asap suci cinta…….

Yang memberi pengaruh rasa “tinggi”…..

akan keindahan……..

stimulasi ini begitu berlebih untuk mencintai……..

walau terkekang oleh pilar-pilar jarak dan waktu……

dan tak tergoyahkan……..

Asap suci ini kelamaan semakin menghilangkan kesadaran…….

membuatku menjauhi kefanaan…….

dan mendekati plang-plang keambiguan……..

(henry, 11 Februari 2009)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 4:07 PM

Posted in Poetries

Time is Berserker

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 2:08 PM

Posted in Poetries

Unthankful Me

Kadang aku hanya melihat kekurangan saja……..

Sering menyalahkan, menyesali bahwa aku pernah hidup…..

Hinaan dari orang-orang kutelan mentah-mentah…….

Badan yang kurus, mata yang tak sehat, rambut yang tak lebat, bahkan untuk merasakan “kebahagiaan semu” saja ku tak dapat melakukannya……

Kumenyalahkan orang tua……

menyalahkan karena telah menurunkan ini semua…….

namun ada beberapa hal yang kulupa…….atau bahkan tertutup di mata selayaknya kacamata kuda.

Aku hanya melihat satu sisi saja……..

kulupa pada betapa mereka peduli padaku dan menyayangiku sepenuh hati……

Berjanji untuk membangun sebuah masjid untuk menyembuhkanku….hanya karena saat kecil, salah satu daun telingaku tak berfungsi………

membawaku dengan segenap tenaga saat hidung dan mulutku mengeluarkan cairan berbau anyir……..

Belum pula perhatian dan doa mereka agar aku selalu mendapatkan yang terbaik………

Aku akan berbahagia…..Berjanji bekerja segenap hati……….

Dan tak pernah menyesali langkah yang telah aku pilih……….

Dan aku minta maaf, bila baru mengingatnya……hari ini……..

(henry, 09 februari 2009)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 1:53 PM

Posted in Opinion

Realities Repress

leave a comment »

Teman-teman kebenaran yang sedih

Dengarkanlah keberanian yang muncul

dari rencahan tulisan anak manusia yang terkubur dalam sepi

semuanya adalah benar, dan benar adalah semuanya

inti kebenaran selalu terbagi dan takkan pernah bersatu

Bagai isis yang tercipta dari bagian tubuh osiris

semua hanya sparagmos

tergantung satu per satu dan saling berjauhan

Doa pun keluar dari mulut biru kehitaman

tersamarkan oleh tipu dan plagiat

Doa yang tercipta memiliki susunan yang sama

seperti kitab terdahulu, Narcisism

Tuhan…Tuhan…Tuhan…Keluarkan aku dari Fantasmagoria ini

Lepaskan aku dari mimpi-mimpi kosong

yang menyesatkanku

tak membuat bergerak

hanya melemahkan

berikan aku kekuatan untuk menerobos realitas-realitas yang ada

Biarkan aku berdiri tegak diatasnya

Agar ku tak menyesal selama di dalam

Tapi….

Apa yang terjadi?

Ternyata ini bukanlah Fantasmagoria

Ini adalah realitas

Ini realitas yang tak kuharapkan

realitas yang memaku ku

Izinkan aku memiliki mimpi-mimpi indah

karena ku salah memperkirakan

mimpi ternyata lebih menyenangkan

namun kembali ku terbangun

dan harus menghadapi imajiner sejati yang nyata

karena ketakutanku

kini kuhanya bisa memukul kakiku sendiri

agar kutertidur dalam realitas

dan terbangun dalam mimpi

(henry, Surabaya 15 agustus 2007)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 1:25 PM

Posted in Poetries

In Memoriam

leave a comment »

Kenangan dulu masih teringat di benakku

Ketulusan dihatimu membesarkan jiwaku

karena ku tahu saat itu tak abadi dan menjauh

meninggalkanku disini, meninggalkanku di sepi

betapa kosong mimpi-mimpi yang kualami

bukan saat bernaung, hanya sejenak melamun

dengan bersinggahkan rencahan-rencahan api anjali

dalam khazanah pencarian yang menyakitkan

saat ini kuterasa bagai serpihan debu

mengikuti kemana aliran angin akan membawaku

kan tetap terus berjuangku hingga angin tetapkan pemberhentianku

sampai ajalku tiba dan kembali bersua denganmu

sedetik kita tak bersama lagi

semenit engkau tak disisi

sewindu dirimu masih tersimpan rapi

di mata dan di hati

(Hegra, february 9th 2009)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 1:02 PM

Posted in Poetries

The Last Word (Part 1)

leave a comment »

Derap itu terus kuikuti. Entah kemana. Tangan tergenggam dan terus menarik. Sakit. Tapi tak mengapa. Genggaman itu serasa melindungi, tak melukai.

Langkah yang semula pelan, berubah kencang. Ranting, daun dan mungkin biji yang baru jatuh dari pohonnya beringsut sedikit menjauh dari kaki yang serasa berlari.

“sebenarnya, hendak kemanakah kita, ayah?”

“ikuti saja nak, ini juga demi kebaikanmu. Nada yang keluar sedikit berbeda dengan keseharian. Hari itu, momen itu, sepernano dertik itu, suara ayah berubah. Beliau yang selalu tegas dan menunjukkan kedisiplinannya, kini serasa memberikan awan teduh, menaungi batin kering nan hampa ini.

Di ujung rimba yang kami susuri, terlihat tebing curam dan penuh batu berbaris. Batu itu serasa berkata, “kemarilah, maka akan kumakan jiwamu yang enggan untuk merasakan damai”..

Gema itu menakutiku. Ku bertanya” mengapa kita kemari? Tempat ini menakutiku.”

Suasana saat itu sekejap tenang. Desir angin yang sedari awal kuberlari berbisik mengganggu, tiba-tiba hening. Yang terdengar hanya wejangan ayah.

“Mungkin engkau belum mengetahui seluruh kenyataan yang tersirat dalam kehidupan,nak. Tapi ketahuilah, segala yang kau lihat, tidak lah selalu sesuai apa yang tercitra”

“Seringkali ada hiperrealitas disana. Penuh dramaturgi. Ada sosok, namun belum tentu terdapat sukma yang sama didalamnya”.

Ayah meneruskan diskursus-nya. “ belum tentu apa yang terstruktur itu benar-benar berfungsi adanya. Engkau, aku, ranting yang kuinjak, rimba ini, kesemuanya bertahan karena ingin kita anggap eksistensinya.”

“untuk dapat bertahan eksistensi itu, semuanya melakukan pertaruhan. Disinilah perjuangan untuk bertaruh akan terasa menyakitkan namun akan terus dicari. Bertaruh untuk ke”diri”annya, untuk ke”aku”annya. Mereka sangat ingin mendapatkannya. Oleh karena itu, mereka akan melakukan apa saja.”

Tersela oleh kebingunganku ayah melanjutkan, “tetaplah engkau menjadi apa yang kau yakini. bila itu menyiksamu, tataplah cermin yang akan sunnah menjawab ‘teruslah bertahan’..”. Karena ayah tahu, engkau telah cukup mampu untuk bertahan sendiri.

(henry, 09 Februari 2009)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 12:56 PM

Confessions of A Ketoprak Peddler (part 1)

leave a comment »

 

Antrian panjang itu tak melepaskan tangannya dari pisau dan ulegan. terus saja bergerak mengikuti arus 360 derajat mengitari piring berjejer enam.

anaknya memanggil, “Yah, kapan selesainya? ayo temani aku bermain.”

sang ayah sembari tersenyum berkata, “tunggu bentar ya? ayah sedang banyak pembeli”.

beruntung sang anak bukan tipikal rewel, lalu dia melanjutkan lari kesana kemarinya.

Hari itu sang tukang ketoprak membawa anaknya untuk menemani berjualan.

selesai melayani pelanggan yang sedari tadi merasa lapar yang sangat, sang tukang ketoprak menghampiri si anak. dipangkunya di atas paha kurus yang terus bergoyang tersebut.

“kamu gak bosan kan menemani ayah berjualan hari ini?” tanya si tukang ketoprak.

“bosan sih iya, abis dari tadi ayah terus melayani orang terus.” jawab sang anak.

sang tukang ketoprak coba mengeluarkan senyum terwibawanya, “maaf deh, ntar kalo ada waktu ayah pasti menemanimu seharian penuh.” janjinya.

sang anak tak menjawab. dia tercenung pada sebuah kotak yang tersembunyi di bawah gerobak milik ayahnya.

“banyak sekali uang receh yang ayah kumpulkan. bisakah aku memintanya?” pintanya.

“maaf nak, uang itu untuk keperluan yang sangat penting nantinya” tutur tukang ketoprak.

“untuk apa yah?” tanya sang anak kritis.

“nanti engkau akan mengetahuinya” paparnya sambil berlalu meninggalkan anaknya sendiri demi melayani pelanggan yang baru datang.

tanya masih bernaung di benak sang anak. untuk apakah sebenarnya uang receh tersebut?

(bersambung)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 11:48 AM

Philosophy of Mattress

leave a comment »

Tolong jangan sia-siakan dia……

Berilah Penghargaan semestinya…..

Dia selalu menerimamu apa adanya….

Saat engkau enggan membersihkan diri, dia tak pernah menolakmu…..

Dia tak pernah marah saat kau berikan air liur,ompol bahkan “mimpi terbasahmu”…..

Dia tak pernah iri saat kau bersenggama diatasnya dengan berbagai pasangan berbeda…..

Dia bahkan tak pernah berkata pada siapapun ketika engkau melakukan hal paling memalukan di dunia di atasnya…..

Dia ikhlas untuk memeluk tubuhmu dan menyeka air mata saat kau bersedih…..

Dia juga memahami dan takkan memaksa saat engkau telah mencapai titik batas penghabisanmu…..

Aku berharap dapat meniru filosofi kasur tersebut………

(Henry, 07 Februari 2009)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 11:40 AM

Posted in Poetries

Bertanya Akan Baik dan Buruk

leave a comment »

Pernahkah kalian mempertanyakan……

bahwa malaikat itu belum tentu baik dan iblis itu tak selayaknya disebut jahat adanya……

bagaimana jika terjadi sebaliknya………

bagaimana bila yang tersirat dalam tanya terdalam nyata adanya…….

Iblis menggoda kita hanya agar kita terlatih nantinya……

menjadi seorang yang kuat…..tahan digoda…..menemukan kebenaran sejati……

bagaimana bila malaikat sama sekali tak ingin kita tahu kenyataan di alam sana…..

mencatat amal kita dengan semena-mena…..memanipulasi data…….dan mencabut nyawa kita apa adanya…..

Hmm….tapi ini hanya buah pikiran……..terserah anda sendiri yang menentukan…..untuk mendekonstruksi wacana yang telah eksis ribuan tahun lamanya……Karena….tulisan ini belum selesai adanya….

(Henry, 06 Februari 2009)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 11:32 AM

Posted in Opinion

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.