Confessions of A Ketoprak Peddler (part 1)
Antrian panjang itu tak melepaskan tangannya dari pisau dan ulegan. terus saja bergerak mengikuti arus 360 derajat mengitari piring berjejer enam.
anaknya memanggil, “Yah, kapan selesainya? ayo temani aku bermain.”
sang ayah sembari tersenyum berkata, “tunggu bentar ya? ayah sedang banyak pembeli”.
beruntung sang anak bukan tipikal rewel, lalu dia melanjutkan lari kesana kemarinya.
Hari itu sang tukang ketoprak membawa anaknya untuk menemani berjualan.
selesai melayani pelanggan yang sedari tadi merasa lapar yang sangat, sang tukang ketoprak menghampiri si anak. dipangkunya di atas paha kurus yang terus bergoyang tersebut.
“kamu gak bosan kan menemani ayah berjualan hari ini?” tanya si tukang ketoprak.
“bosan sih iya, abis dari tadi ayah terus melayani orang terus.” jawab sang anak.
sang tukang ketoprak coba mengeluarkan senyum terwibawanya, “maaf deh, ntar kalo ada waktu ayah pasti menemanimu seharian penuh.” janjinya.
sang anak tak menjawab. dia tercenung pada sebuah kotak yang tersembunyi di bawah gerobak milik ayahnya.
“banyak sekali uang receh yang ayah kumpulkan. bisakah aku memintanya?” pintanya.
“maaf nak, uang itu untuk keperluan yang sangat penting nantinya” tutur tukang ketoprak.
“untuk apa yah?” tanya sang anak kritis.
“nanti engkau akan mengetahuinya” paparnya sambil berlalu meninggalkan anaknya sendiri demi melayani pelanggan yang baru datang.
tanya masih bernaung di benak sang anak. untuk apakah sebenarnya uang receh tersebut?
(bersambung)
