Mind Manifestation Journals

Social Journalist sees Industries and Global Impacts

The Last Word (Part 1)

leave a comment »

Derap itu terus kuikuti. Entah kemana. Tangan tergenggam dan terus menarik. Sakit. Tapi tak mengapa. Genggaman itu serasa melindungi, tak melukai.

Langkah yang semula pelan, berubah kencang. Ranting, daun dan mungkin biji yang baru jatuh dari pohonnya beringsut sedikit menjauh dari kaki yang serasa berlari.

“sebenarnya, hendak kemanakah kita, ayah?”

“ikuti saja nak, ini juga demi kebaikanmu. Nada yang keluar sedikit berbeda dengan keseharian. Hari itu, momen itu, sepernano dertik itu, suara ayah berubah. Beliau yang selalu tegas dan menunjukkan kedisiplinannya, kini serasa memberikan awan teduh, menaungi batin kering nan hampa ini.

Di ujung rimba yang kami susuri, terlihat tebing curam dan penuh batu berbaris. Batu itu serasa berkata, “kemarilah, maka akan kumakan jiwamu yang enggan untuk merasakan damai”..

Gema itu menakutiku. Ku bertanya” mengapa kita kemari? Tempat ini menakutiku.”

Suasana saat itu sekejap tenang. Desir angin yang sedari awal kuberlari berbisik mengganggu, tiba-tiba hening. Yang terdengar hanya wejangan ayah.

“Mungkin engkau belum mengetahui seluruh kenyataan yang tersirat dalam kehidupan,nak. Tapi ketahuilah, segala yang kau lihat, tidak lah selalu sesuai apa yang tercitra”

“Seringkali ada hiperrealitas disana. Penuh dramaturgi. Ada sosok, namun belum tentu terdapat sukma yang sama didalamnya”.

Ayah meneruskan diskursus-nya. “ belum tentu apa yang terstruktur itu benar-benar berfungsi adanya. Engkau, aku, ranting yang kuinjak, rimba ini, kesemuanya bertahan karena ingin kita anggap eksistensinya.”

“untuk dapat bertahan eksistensi itu, semuanya melakukan pertaruhan. Disinilah perjuangan untuk bertaruh akan terasa menyakitkan namun akan terus dicari. Bertaruh untuk ke”diri”annya, untuk ke”aku”annya. Mereka sangat ingin mendapatkannya. Oleh karena itu, mereka akan melakukan apa saja.”

Tersela oleh kebingunganku ayah melanjutkan, “tetaplah engkau menjadi apa yang kau yakini. bila itu menyiksamu, tataplah cermin yang akan sunnah menjawab ‘teruslah bertahan’..”. Karena ayah tahu, engkau telah cukup mampu untuk bertahan sendiri.

(henry, 09 Februari 2009)

Written by henryagrahadi

March 31, 2011 at 12:56 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.